Selama 84 tahun hidupnya, Mbah Tamim telah melewati berbagai zaman dan menyaksikan perubahan Temboro dari dekat. Kisah kehidupannya turut diabadikan dalam buku Kronik Tiga Abad Temboro yang ditulis Dadang Budiana.
Salah satu kisah yang masih diingat Mbah Tamim adalah pengalamannya pada masa Agresi Militer Belanda tahun 1948. Saat itu, Tamim kecil yang baru berusia sekitar enam tahun bermain ke daerah yang ketika itu menjadi markas para pejuang, di sekitar kawasan Masjid Baitul Muqodas sekarang.
Karena masih kecil, empat orang pejuang kemudian mengantarkannya pulang ke rumah orang tuanya. Tidak disangka, beberapa hari kemudian, basis pertahanan para pejuang tersebut diberondong rentetan peluru dari pesawat tempur milik KNIL.
Salah seorang pejuang yang sebelumnya mengantar Tamim kecil pulang kemudian gugur setelah terkena tembakan di bagian kepala dalam penyerbuan tersebut.
Selain kisah Agresi Militer Belanda, Mbah Tamim juga masih mengingat peristiwa lain yang terjadi di Temboro pada masa pergolakan politik 1948.
Suatu ketika, ia melihat puluhan orang berpakaian serba hitam dengan ikat kepala merah berjalan beriringan melintasi kawasan Temboro. Mereka membawa berbagai senjata tajam.
Tamim kecil yang sedang asyik menonton kemudian langsung dipangku ayahnya dan dijauhkan dari rombongan tersebut. Kelak, setelah dewasa, Mbah Tamim mengetahui bahwa orang-orang yang dilihatnya saat itu merupakan bagian dari Front Pemuda Rakyat (FPR) yang berafiliasi dengan PKI dalam pergolakan Madiun 1948.
Berbagai peristiwa tersebut menjadi bagian dari ingatan panjang Mbah Tamim tentang Temboro. Masih banyak kisah lain yang tersimpan dalam ingatannya, mulai dari kehidupan masyarakat Temboro pada masa lalu hingga perubahan yang terjadi dari generasi ke generasi.
Mbah Tamim pun dikenal tidak pelit bercerita. Ingatannya tentang masa lalu masih cukup kuat. Di usianya yang kini mencapai 84 tahun, pendengaran dan penglihatannya juga masih cukup baik.
Yang menarik, aktivitas keagamaannya hingga kini masih terjaga. Mbah Tamim masih rajin datang ke Masjid Al-Huda. Shalat lima waktu sebisa mungkin ia laksanakan di masjid, kecuali ketika sedang udzur.
Ia juga masih aktif mengikuti musyawarah pagi dan taklim. Bahkan, beberapa waktu lalu, ketika kondisi fisiknya masih memungkinkan, Mbah Tamim masih rutin mengikuti kegiatan khuruj selama tiga hari setiap bulan.
Dari perjalanan hidupnya, Mbah Tamim bukan hanya seorang warga biasa. Ia adalah saksi hidup yang menyimpan potongan-potongan sejarah Temboro dalam ingatannya.
Sejarah sebuah kampung tidak selalu hanya tersimpan dalam arsip dan buku. Ia juga hidup dalam ingatan orang-orang yang mengalaminya. Dan Mbah Tamim adalah salah satu di antaranya—tokoh Temboro lintas zaman yang masih bisa ditemui dan didengarkan ceritanya hingga hari ini.
Mbah Tamim, Tokoh Temboro Lintas Zaman
Temboro— Mbah Tamim adalah orang asli Temboro yang lahir pada 1942. Meski bukan tokoh ternama, perjalanan hidupnya menjadikan dirinya salah satu saksi hidup perkembangan Temboro dari masa ke masa.
