Temboro – Penampilannya khas. Setiap hari Pak Jamaludin (64 tahun) mengenakan pakaian sunnah, lengkap dengan peci dan sorban yang melekat di kepalanya. Janggutnya pun lebat. Namun, bapak sembilan anak asal Jiwan Madiun ini, kesehariannya justru banyak dihabiskan untuk merawat bunga dan tanaman di sepanjang jalan antara Pondok Sunan Giri, Masjid Trangkil, serta gerbang Al-Masjid Indoor. "Ya, saya ikut khidmat kepada Pondok (Al-Fatah), juga khidmat pada Pak Kyai (Ubaidillah Ahror)," kata Pak Jamal, demikian nama panggilannya.
Menanam, menyirami, dan merawat berbagai jenis tanaman menjadi aktivitas rutin Pak Jamal. Berkat tangannya, ruas jalan tersebut tampak lebih hijau dan asri.
Meski harus berpanas-panasan di bawah terik matahari, Pak Jamal terlihat menikmati pekerjaannya. Baginya, bunga bukan sekadar penghias jalan, tetapi juga memiliki makna tersendiri.
“Bunga ini harum dan indah. Semua orang menyenangi bunga. Demikian juga dengan akhlak Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Akhlak Rasulullah sangat harum dan indah. Orang kafir pun menyukai akhlak Rasulullah. Meskipun mereka memusuhi Rasulullah, tetapi mereka selalu menitipkan barang-barangnya pada Rasulullah,” tuturnya saat dijumpai di rumahnya (12/9).
Di balik kesederhanaan aktivitasnya, tidak banyak yang mengetahui bahwa Pak Jamaludin merupakan salah satu saksi awal masuknya dakwah Tabligh di Temboro.
Pada tahun 1983, Pak Jamal ikut menyertai rombongan jamaah dakwah asal Pakistan yang dipimpin oleh Abdus Shobur. Rombongan tersebut melakukan perjalanan dakwah dengan berjalan kaki dari Jakarta hingga Madura.
Pak Jamal mengikuti perjalanan jamaah tersebut sejak dari Solo hingga rute terakhir di Madura. Dalam perjalanan panjang itu, rombongan sempat singgah di Masjid Manisrejo.
Penanggung Jawab Masjid Manisrejo saat itu, Ustadz Muhammad Isa, kemudian membawa Abdus Shobur dan beberapa anggota rombongan untuk bertemu dengan KH Mahmud Kholid Umar, yang ketika itu menjadi Pimpinan Pondok Pesantren Al-Fatah Temboro.
Pertemuan tersebut menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan dakwah di Temboro. Dari pertemuan itu, KH Mahmud Kholid Umar terkesan dan tertarik untuk menghidupkan usaha dakwah Tabligh di Temboro.
Dakwah tersebut kemudian berkembang dan diteruskan oleh anak-anak serta cucu KH Mahmud hingga sekarang. Temboro pun dalam perjalanan waktu berikutya dikenal sebagai salah satu pusat kegiatan dakwah Tabligh di Indonesia.
Pak Jamaluddin, Saksi Awal Dakwah Tabligh di Temboro (Bag. 1)
Sosok perawat bunga di Temboro ini ternyata orang penting. Beliau adalah salah seorang yang pernah ikut menyertai rombongan dakwah tabligh dari Pakistan. Rombongan ini adalah jamaah yang pertama kali mengenalkan dakwah tabligh kepada Kyai Mahmud Kholid Umar.

GALERI
Foto Tambahan

