Temboro – Tragedi serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat masih menyisakan kenangan bagi banyak orang yang mengalaminya secara langsung. Salah satunya Wahju Djatmika (54), warga Randusongo, Ngawi, Jawa Timur, yang saat itu tinggal di Brooklyn, New York.
Wahju berada di New York ketika empat pesawat penumpang digunakan dalam serangan yang menewaskan hampir 3.000 orang. Dua pesawat menabrak Menara Kembar World Trade Center (WTC) di Manhattan. Pesawat ketiga menabrak gedung Pentagon di Arlington, Virginia, sedangkan pesawat keempat jatuh di Pennsylvania sebelum mencapai targetnya di Washington DC.
Peristiwa yang terjadi 25 tahun lalu itu, sampai kini masih menimbulkan kontroversi. Dua gedung WTC yang ditabrak justru ambruk dari lantai dasar bangunan, padahal satu pesawat menabrak lantai 77 hingga 85 dan satu lagi menabrak lantai 93 hingga 99 seperti yang dilaporkan oleh BBC. Bahkan ada satu gedung yaitu Gedung WTC 7 yang tidak ditabrak dan tidak mengalami serangan apapun ikut ambruk.
Terlepas dari kontroversi itu, bagi Wahju peristiwa tersebut menjadi pengalaman yang tidak pernah dilupakan. Ia bahkan selamat dari tragedi itu karena datang terlambat ke lokasi.
Sehari sebelum kejadian, Wahju baru saja merayakan ulang tahunnya. Pagi 11 September 2001, ia sebenarnya telah berjanji bertemu dengan sejumlah temannya sesama orang Jawa di Manhattan, kawasan tempat kompleks WTC berada.
Namun sebelum berangkat, Wahju terlebih dahulu pergi ke sebuah laundry di dekat tempat tinggalnya untuk mencuci pakaian.
Saat berada di laundry, tiba-tiba terjadi keributan antarsejumlah orang. Tidak lama kemudian polisi datang ke lokasi.
Wahju memilih tetap berada di dalam laundry.
“Saya tidak mau menjadi saksi. Meskipun saya mendapat bayaran kalau mau menjadi saksi, saya tidak mau karena nanti harus hadir berulang-ulang di persidangan. Karena itu saya tetap ngumpet di laundry sampai polisi yang menyelidiki insiden itu pergi,” kata Wahju saat ditemui di Temboro, Sabtu (12/9).
Setelah situasi dianggap aman, Wahju menghubungi teman-temannya dan segera menuju stasiun subway untuk berangkat ke Manhattan. Perjalanan yang biasanya ditempuh sekitar 30 menit itu berlangsung tidak seperti biasanya.
Di tengah perjalanan, alarm darurat subway tiba-tiba meraung-raung. Kereta juga berjalan lebih lambat.
“Ada kecelakaan apa ini?” tanya Wahju kepada teman-temannya. Namun saat itu tidak seorang pun mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Ketika subway tiba di tujuan dan para penumpang keluar dari stasiun, mereka langsung menghadapi suasana yang kacau. Debu pekat memenuhi kawasan tersebut. Polisi mengarahkan warga menuju tempat yang dianggap aman.
“Rambut saya langsung memutih terkena debu,” kenang Wahju.
Beberapa saat kemudian, barulah Wahju dan teman-temannya mengetahui bahwa gedung WTC yang sedianya hendak mereka kunjungi telah runtuh. Mereka pun dilarang mendekati kawasan tersebut.
Dengan berbagai upaya, Wahju dan teman-temannya akhirnya dapat kembali ke tempat tinggal masing-masing.
Kepanikan Setelah Serangan
Situasi di New York belum langsung kembali normal. Setelah serangan, kepanikan melanda masyarakat. Warga berbondong-bondong membeli air mineral dan makanan yang dapat disimpan dalam waktu lama, seperti roti.
Berbagai isu juga beredar. Salah satunya mengenai ancaman penyebaran antraks dan keamanan air minum. Menurut Wahju, pemberitaan media saat itu turut memperbesar rasa takut masyarakat.
“Media massa justru menyebarkan berbagai ketakutan, termasuk tentang Islam. Sebelumnya orang Amerika hampir tidak peduli dengan Islam. Setelah peristiwa itu, media banyak memberitakan keburukan-keburukan yang dikaitkan dengan orang Islam,” ujarnya.
Serangan 11 September kemudian diikuti kebijakan Amerika Serikat yang dikenal sebagai “War on Terror” atau Perang Melawan Teror. Pemerintahan Presiden George W. Bush menjadikan pemberantasan terorisme sebagai agenda utama kebijakan luar negeri Amerika.
Afghanistan menjadi sasaran pertama invasi AS pada Oktober 2001. Dalam tahun-tahun berikutnya, operasi militer dan serangan Amerika Serikat maupun sekutunya juga berlangsung di sejumlah negara, seperti Irak, Pakistan, Yaman, Somalia, Libya, Suriah, dan Iran. Jutaan umat Islam menjadi korban dari propaganda Amerika Serikat itu. Ratusan orang dikirim ke penjara di Guantanamo tanpa pengadilan. Selain itu, berton-ton cadangan emas di Bank Sentral Irak digondol ke AS, ladang-ladang minyak di Irak, Afghanistan, Suriah, Libya dan lain-lain juga jatuh ke tangan perusahaan-perusahaan multinasional AS.
Kebijakan tersebut kemudian memunculkan perdebatan panjang mengenai dampak perang terhadap masyarakat sipil, terutama di negara-negara Muslim.
Masjid Indonesia Dipenuhi Warga Amerika
Di tengah suasana penuh ketakutan itu, Wahju justru melihat munculnya ketertarikan sebagian warga Amerika untuk mengenal Islam lebih jauh.
Kajian keislaman di Masjid Indonesia di New York yang dipandu Imam Syamsi Ali, ulama asal Makassar, menurut Wahju justru semakin ramai.
“ Mereka sampai rela mengantri. Saat itu saya ikut menjadi marbot di masjid itu,” kata Wahju.
Menurutnya, banyak warga Amerika datang bukan sekadar untuk mengikuti kajian, tetapi juga ingin bertanya secara langsung tentang Islam dan ajarannya.
Fenomena tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi Wahju. Di tengah pemberitaan yang menurutnya banyak mengaitkan Islam dengan terorisme, ia menyaksikan sendiri adanya masyarakat Amerika yang justru ingin memahami Islam secara lebih dekat. Sebagian di antara mereka langsung memeluk Islam.
Meninggalkan New York
Setelah tragedi 11 September, Wahju merasa kondisi New York tidak lagi kondusif bagi dirinya. Ia kemudian pindah ke West Virginia, sebuah wilayah yang menurutnya suasananya lebih tenang dan “ndeso”.
Tidak lama kemudian, Wahju kembali ke Indonesia setelah kampus yang sebelumnya akan menjadi tempatnya kuliah membatalkan penerimaannya.
Kini, seperempat abad setelah tragedi tersebut, kenangan Wahju tentang pagi 11 September 2001 masih tetap melekat. Ia bukan korban langsung serangan WTC, tetapi pernah berada di tengah kekacauan sesaat setelah salah satu tragedi terbesar dalam sejarah Amerika Serikat itu terjadi.
Bagi Wahju, keterlambatan berangkat ke Manhattan pada pagi itu menjadi sebuah pengalaman yang tidak akan pernah dilupakannya. Tragedi 11 September menjadi sejarah dunia yang akan terus dibicarakan.
Tragedi WTC 11 September di Mata Orang Ngawi
Tragedi WTC yang terjadi 25 tahun lalu, masih terus menjadi perbincangan masyarakat internasional. Temasuk sorotan dari warga Indonesia yang pernah merasakan dampak peristiwa itu.

GALERI
Foto Tambahan

